lena

saya magdalena merichel betty,lahir di palembang 08-12-91, anak pertama(kembar)dari 3 bersaudara kuliah di jakarta di uki,falkultas FKIp, prodi PAK

Senin, 28 Oktober 2013

Cerita 2


                   

 

“CERITA NYATA”
Kisah tentang cinta kasih ini membuat semua terharu dan terus meneteskan air mata.

Di suatu siang hari terlihat seorang nenek berulang kali menekan tombol sebuah rice cooker, tetapi rice cooker itu tetap tidak mau menyala. Lalu nenek ini berjalan tergopoh-gopoh dari dapur ke kamarnya. Di dalam kamar nenek langsung merapikan rambutnya yang sudah memutih dan mengganti baju.

Setelah semua kancing bajunya terkancing, si nenek kembali membukanya lagi. Ternyata kancing bajunya tidak terkancing sesuai urutan, sehingga terkadang sisi baju yang sebelah kiri menjadi lebih tinggi dari yang kanan. Atau kancing yang sebelah kanan melampaui 2 urutan dari yang sebelah kiri. Nenek bahkan harus mengulanginya beberapa kali sampai berkeringat, baru akhirnya semua bisa terkancing rapi sesuai urutannya. Setelah itu nenek berjalan keluar dari kamar.

Saat nenek melintasi ruang tamu, cucu perempuannya yang berumur 16 tahun sedang menonton TV. Terheran melihat neneknya berpakaian rapi, lalu bertanya, “Nenek mau kemana, bukannya tadi nenek sedang masak didapur?” Nenek kemudian menjelaskan kalau ia tadinya memang mau memasak, tapi entah kenapa rice cookernya tidak mau menyala, dan sekarang nenek mau keluar sebentar membeli makanan.

Dengan wajah cemberut, cucunya meminta agar nenek cepat pulang karena ia sudah mulai lapar. “Iya, nenek akan cepat pulang. Kamu tunggu nenek sebentar yah...” Kata neneknya dengan tersenyum, supaya wajah cucunya tidak merengut lagi. Nenek pun berjalan keluar rumah, menunggu bus yang lewat, lalu naik bus ke pusat penjualan makanan.

Beberapa saat setelah nenek keluar rumah, cucunya berjalan ke dapur mencari cemilan untuk sekedar mengganjal perut. Tak sengaja dia melihat steker rice cooker yang belum dicolok. Cucunya pun tersenyum geli melihat sikap pelupa neneknya seperti orang yang sudah pikun saja.

Sesampai di pusat penjualan makanan, nenek membeli nasi ayam kesukaan cucunya. Setelah selesai membayar dan hendak pulang, langkah nenek tiba-tiba terhenti persis di pintu keluar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, bola matanya membesar, raut mukanya berubah tampak kebingungan. Semua bangunan dan jalanan yang ada di depannya terlihat berbeda dan asing.

Nenek terdiam membisu sejenak. Dan akhirnya menyadari kalau ia lupa arah jalan pulang ke rumah.

Lantas dengan sigap, nenek melambaikan tangannya sambil berjalan menghampiri seorang pemuda yang melintas di depannya. Meminta bantuan kepada pemuda itu agar mau membawanya pulang. “Nak, Nak, tolong antarkan nenek pulang...” Kata nenek.

“Maaf, Nek. Saya sedang terburu-buru.” Tolak pemuda tadi.

Kemudian nenek menghampiri seorang wanita paruh baya. Sama dengan pemuda tadi, wanita ini juga tidak bisa mengantarkan nenek pulang karena akan menjemput anak-anaknya. Nenek tidak berhenti. Kali ini dengan gesit ia berjalan ke arah seorang bapak-bapak untuk meminta tolong. “Pak, Pak, tolong antarkan saya pulang. Cucu saya sedang menunggu saya pulang membawa makanan. Dia pasti sudah lapar sekarang.” Kata nenek dengan wajah terlihat sedih.

“Rumah Nenek dimana, yuk saya antar.” Jawab bapak ini.
“Emm... mm... saya.., saya tidak ingat dimana.” Kata nenek dengan terbata-bata. “Tapi tolong antarkan saya pulang, Pak. Pokoknya antarkan saja saya pulang.” Nenek memohon. Bapak ini juga tidak bisa menolong karena nenek sudah pikun dan sama sekali tidak ingat dimana rumahnya. Mata nenek tampak berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh membasahi pipi.

Berulang kali nenek terus meminta tolong kepada setiap orang yang ditemuinya untuk diantarkan pulang. Ada yang menolak dan ada juga yang bersedia... tapi siapa pun yang mau menolong tetap saja tidak bisa mengantarkan nenek. Wajah nenek tampak sangat sedih. Tanpa di sadari air mata nenek mengalir di pipinya. Teringat cucunya menahan lapar, sedang menunggunya pulang membawa makanan.

Nenek tetap terus berjalan sambil meminta tolong, dan sesekali mencoba mencari jalan pulang sendiri. Tanpa berhenti untuk beristirahat. Rambut putihnya yang tadinya tersisir rapi dan diikat ke belakang, sekarang mulai berantakan dan tidak karuan. Kedua tangannya terus mendekap nasi ayam yang dibelinya tadi siang agar tetap hangat. Seluruh wajah dan bajunya telah basah oleh keringat. Langkahnya juga sudah mulai melambat karena kakinya terasa sakit dan kelelahan.

Hingga hari mulai gelap, nenek masih saja terus berjalan, berusaha bisa sampai ke rumah meskipun dari wajahnya terlihat jelas sekali kalau nenek sudah sangat kelelahan...

Pada waktu yang bersamaan, dirumah nenek, sepasang suami istri baru pulang. Mereka adalah orang tua dari cucu nenek. Si ibu melihat anaknya yang sedang ngemil sambil menonton TV. Lalu bertanya, “Kok kamu ngemil, apa nenek belum selesai masak?” Putrinya menjelaskan, kalau nenek tidak jadi masak hari ini dan sudah sejak tadi siang pergi ke pusat penjualan makanan tapi masih belum pulang sampai sekarang.

“Apa! Nenek belum pulang dari tadi siang?!” Kata ayahnya dengan wajah terkejut bercampur khawatir. Belum sempat anaknya berkata apapun, kedua suami istri ini langsung pergi lagi. Bermaksud mencari nenek! Anaknya kaget melihat kedua orang tuanya tiba-tiba menjadi panik dan langsung pergi lagi. Setelah beberapa saat dia baru sadar, kalau nenek bukan pelupa, tapi sudah pikun, dan nenek pasti sedang tersesat sekarang. Segera, dia pun mengikuti kedua orang tuanya pergi mencari nenek.

Ketiganya berkeliling di tengah keramaian kota, berusaha menemukan nenek. Dan kemudian, kedua suami istri ini mendengar bunyi klakson mobil bersahut-sahutan. Keduanya segera berlari ke arah bunyi klakson tersebut. Sesampainya disana mereka melihat nenek berdiri terbengong di tengah jalan menghalangi laju mobil-mobil. Lalu keduanya menarik tangan nenek dan menuntunnya ke tepi jalan. “Apa yang Ibu lakukan di tengah jalan seperti ini. Ibu membuat kita jadi tontonan semua orang...” Bentak putranya.

“Pak, Pak, tolong antarkan saya pulang, cucu saya sekarang pasti sudah sangat lapar. Kasihan cucu saya, dia belum makan dari siang. Tolong Pak...” Karena di bentak, nenek semakin linglung dan tidak ingat dengan putra maupun menantunya sendiri. “Bu! Saya ini anakmu sendiri!” Teriak putranya lagi. Kemudian nenek berpaling ke arah menantunya, “Nyonya, tolong antarkan saya pulang, cucu saya sedang menunggu saya pulang bawa makanan.” Nenek memelas sambil menangis.

Mendengar nenek memelas seperti itu ditambah dengan melihat kondisi tubuh nenek yang sedemikian sangat lelahnya. Hati keduanya terasa sangat pilu sekali. Tak kuasa menahan air mata, menantunya menjadi ikut menangis. Menangis dengan teramat sedih. Menyadari betapa besarnya cinta dan kasih sayang nenek kepada cucunya, yang tak lain adalah putri mereka sendiri.

Tiba-tiba... dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara cucunya memanggil, “Nenek, Nenek...” Nenek menoleh ke belakang, mencari asal suara cucunya. Ternyata benar, cucunya berada tidak jauh dari sana. Dibalik keremangan lampu jalan, cucunya berlari ke arah nenek. Senang melihat cucunya berada disana, nenek pun berjalan ke arah cucunya dengan tertatih-tatih. Walaupun terlihat nenek tersenyum sangat senang, namun masih tampak sangat jelas kecapekan dibalik senyumannya itu.

Cucunya langsung memeluk nenek. “Nenek maafkan saya, Nenek tidak apa-apa?” Kata cucunya dengan meneteskan air mata. “Iya, Nenek tidak apa-apa. Ini nenek sudah belikan nasi ayam kesukaan kamu, ayo makan. Kamu pasti sudah lapar sekali. Kasihan cucu nenek harus kelaparan sampai malam.” Kata nenek sambil membuka bungkus nasi lalu di suapkan ke mulut cucunya. Cucunya terus menangis. “Nenek maafkan saya, maafkan saya, nek.” Cucunya terus berulang-ulang meminta maaf sambil menangis...

“Tolong maafkan nenek yah, kamu jadi harus kelaparan menunggu nenek terlalu lama.” Mendengar nenek berkata demikian, dan melihat kondisi nenek yang begitu kesakitan juga kelelahan. Air mata cucunya semakin deras mengalir. Putra dan menantu nenek yang melihat kejadian ini, juga menitikkan air mata. Lalu keduanya berjalan mendekati nenek dan memeluk nenek dari belakang. “Ibu, kami semua sangat mencintaimu.”

Sahabat yang terkasih,

Kisah ini disampaikan kepada saya dan Anda untuk membuka hati dan mata kita akan betapa besarnya cinta kasih orang tua dalam mengurus serta membesarkan anak-anaknya. Ketika orang tua kita sudah renta dan tidak lagi mampu mengurus dirinya sendiri, sebagai anak, sudah sepatutnya kita juga mengasihi, merawat dan memperhatikan mereka sama persis dengan yang telah mereka lakukan kepada kita.

Dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat, maukah Anda berbaik hati untuk ikut serta bersama saya dalam meneruskan pesan kisah cinta kasih ini dengan “Tag/Share & Broadcast” kepada semua teman-teman dan anggota keluarga? Karena dengan kita berbuat demikian serta menganjurkan orang lain turut melakukannya adalah amal ibadah yang paling disenangi oleh Tuhan, dan akan membawa berkah rahmat terbesar dalam hidup kita di dunia, juga di akhirat.

Setiap 1 Tag/Share yang Anda lakukan terkandung 1 donasi yang Anda berikan bagi Panti Jompo dan 1 Karunia Rahmat Besar yang Anda terima. Kian banyak Tag/Share yang dilakukan menjamin kian besarnya Limpahan Berkah Rahmat yang Anda terima, dan donasi yang diberikan. Menjadikan nama Anda juga dikenal dan dikenang selalu oleh seluruh belahan dunia sebagai “Insan Pelita Cinta–Kasih–Sayang” yang telah mengubah dunia...

Terima Kasih telah menyayangi, dan
Terima Kasih telah berbagi hati mulia Anda bersama saya

Kasih


 Sekalipun aku dapat berkata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekali pun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan,
dan sekali pun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekali pun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,
bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar;
Kasih itu murah hati;
Ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu,
percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu,
sabar menangungu sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir
bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna akan lenyap.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berfikir seperti kanak-kanak.
Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran samar-samar,
tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna,
tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna,
seperti aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.
dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.

Kasih ( 1 Korintus 13:1-13)
 
Cerita
 
      Awal Kehancuran dalam hidupku dimulai ketika aku memperbolehkan kejahatan masuk ke dalam diriku. Lalu kemudian dengan cepat dia merongrong jiwaku, mengikatnya dan selanjutnya aku berada di bawah jajahannya.

aku menjadi budak kejahatan, dalam langkah awal ia solah-olah memberikan kebebasan dan kebahagiaan dunia kepadaku dan aku menjadi yakin akan pemberiannya itu, dengan keyakinku itu aku dengan sukarela memberikan kebebasan dan kebahagiaanku kepadanya sehingga aku menjadi terikat dan terbelunggu olleh dosa yang dibuatnya. dan secara sukarela aku terus mengikuti perintahnya.

Di dalam periode ini aku menjadi semakin mundur dan mundur. di dalam kemunduran itu secara sadar aku meyakini di dalam diriku ada suatu permasalahan besar yang tengah terjadi di dalam diriku. sehingga kemudian dengan gagahnya aku berseru-seru dan berkata-kata, aku bisa melewatinya. aku bisa menyelesaikannya. aku kuat. aku pasti bisa mengatasinya.

Aku terlalu congkak dan sombong dengan keyakinanku itu, aku merasa seperti bisa keluar dari masalah ini dengaan kekuatan yang aku miliki. kecongkakan dan kesombongan ini semakin memperdalam keterikatanku dengan dosa. dosa semakin mengikat manusia yang sombong dengan keyakinannya. keyakinan yang bodoh dan tidak berfaedah sama sekali dalam menyelesaikan permasalahn. karena akar permasalahannya adalah aku tidak menyertakan Tuhan dalam setiap persoalan hidupku. Aku seolah-olah yakin Tuhan pasti hadir dan dengan baik hati akan menolongku tanpa aku meminta pertolongan kepadaNya.

Sungguh.... dalam kondisi ini Aku adalah manusia yang belum beranjak dalam kedewasaan iman. Pola pikir kolot masih terus menggelayut dalam pikiranku. merasa bisa bukanlah jalannya. aku semakin terperangkap dalam lingkaran yang sama. yang kurasakan aku semakin lelah dan lemah dalam ketidakberdayaan. dan dalam kondisi ini hal yang umum dirasakan adalah aku merasakan Tuhan tidak hadir dalam hidupku.

Hamba seperti apa aku ini ketika secara sadar aku menguji Tuhan ku dan disaat lain aku menyalahkan Tuhan Sang Pemberi Kehidupan.

Padahal sudah sangat jelas dikatakan bahwa ketika kita minta kepadaNya maka DIA sang sumber kekuatan akan datang dan dengan suka rela serta penuh kasih akan membantu kita dan mengangkat kita dari persoalan yang membelenggu.

Menghadirkan Tuhan dalam hidup adalah hal yang paling mulai dan berharga. Dan hal yang perlu di ingat adalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita yang berseru-seru kepadNya.

 
 

Cerita


 Suatu ketika terjadi percakapan yang "Panas" diantara seorang ibu dan anak laki-lakinya...

Ibu : Nak, mau kemanakah engkau anakku???

Anak : Aku mau pergi, Mak???

Ibu : Mau pergi kemana engkau anakku??

Anak : Aku mau pergi ke Gunung bersama teman-teman kampusku, Mak.

Ibu : Jangan Nak... Mak Lihat hari ini cuaca tidak baik, hujan mau turun.. kilat dah mulai nembak-nembak... jangan pergi engkau ya nak..

Anak : Kenapa Pula Emak melarangku??!! Aku kan sudah besar Mak.. Apa Mak tidak percaya denganku???

Setelah percakapan singkat itu, anak dari Ibu tua itu tetap pergi [tanpa menghiraukan pesan orangtuanya], meninggalkan Ibunya sendiri dirumah dan berangkat bersama teman-temannya.

Si Ibu tua itu menangis... dalam tangisan itu ia berkata-kata, Jika sebenarnya engkau tahu dahulu bapakmu juga pergi dalam kondisi seperti ini anakku. Mak sayang sekali sama mu Nak. Mak ga mau orang yang paling Mak sayangi juga pergi meninggalkan Emak sendiri di dunia ini.

Si Ibu Tua itu tidak kuasa menahan gejolak yang terus bergolak di dalam hatinya. Di dalam kesendiriannya ia berdoa semalam suntuk demi keselamatan anak semata wayang yang paling dikasihinya.

Keesokan harinya kabar pun terdengar, rombongan mahasiswa yang pergi mendaki gunung 2 hari yang lalu didapati telah meninggal karena tanah yang mereka lewati longsor dan masuk ke dalam jurang.

Betapa pedih hati si Ibu mendengar berita itu.

Ketika berjalan menuju tim SAR, Si IBu terus berdoa dan berharap semoga anaknya selamat dalam peristiwa tersebut. Ternyata harapannya hanya tinggal harapan. Hati Si Ibu benar-benar tak kuasa melihat anaknya yang telah terbujur kaku di sebuah ruangan. Air matanya terus mengalir dan si Ibu benar-benar merasa menjadi orang tua dan istri yang tidak berguna. Ia terus menyesali dirinya.

Sampai pada akhirnya setiba di rumah ia mengakhiri hidupnya.

Ibu : "AKu benar-benar menjadi orang yang tidak berguna di dunia ini, suami yang kusayangi pergi meninggalkanku... anak yang kusayangi juga pergi meninggalkanku. Kenapa aku tidak bisa tegas melarang mereka agar mereka tidak pergi!!! Kenapa aku begitu lemah!!!" Dalam keputusasaannya itu ia mengakhiri hidupnya.

Pesan moral yang mau kita ambil dari cerita ini adalah : rasa sayang yang tidak ditempatkan dalam cara yang benar amat jarang dimengerti oleh orang lain-yang menjadi sasaran rasa sayang tersebut.

Yang banyak terjadi adalah hal sebaliknya. Orang tersebut merasa tidak dihargai, tidak dipercaya, tidak dimengertiin dan lain sebagainya. Salah satu contoh yang banyak terjadi adalah larangan orang tua kepada anak-anaknya agar tidak pergi larut malam atau pulang larut malam. Contoh lain yang juga sering terjadi adalah seorang pasangan melarang kekasihnya untuk tidak merokok.

Mari kita melatih diri agar dapat menyampaikan/menyalurkan rasa sayang dalam cara yang tepat dan di waktu yang tepat.

Kesetiaan Bukti Cinta pada Allah (Mikha6:8)

kesetian merupakan salah satu dari citrarasa buah Roh Kudus yang dituliskan oleh rasul Paulus. kestian juga telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus ketika Ia dating ke dunia sebagai manusia, di mana ia tetap setia sampai mati di kayau salib untuk turut dalm penderitaan demi umat manusia. Firman Tuhan hari ini dilatarbelakangi oleh umat Israel yang berubah setia kepada Allah. Dituliskan orang-oarng kaya melakukan banyak kekerasan, penduduknya berkata dusta dan lidah dalam mulut mereka adalah penipu tanpa mereka sadari yang menuntun mereka keluar dari Tanah Mesir dan membebaskan mereka dari Tanah perbudakan. oleh karna itu seharusnya mereka tetap setia kepada Allah. ada dua hal kesetian bukti cinta kepada Allah.
pertama, kesetian merupakan hal yang baik bagi Tuhan (ayat. 8a). sesuatu yang baik seharusnya mendapat perhatian khususnya dari seseorang yang menyatakan bahwa itu baik. Mencintai kesetian dala firman Tuhan ini diserukan oleh Mikha untuk menegur banhsa Israel yang telah berupa setia. kalau kita membaca dalam ayat 8, Mikha berkata "hai manusia" menunjukkan secara umum umat Israel pasa sikap yang tidak konsisten pada perintah Allah, mereka telah berpuat kepada ilahi-ilahi lain dalam hal ini diungkapkan ketetapan2 Omri, segala perbuatan keluarga Ahab. dimana perbuatan kedua tokoh ini adalah perbuatan yang menajiskan nama Allah.
kedua, kesetian merupakan tuntutan Tuhan (ayat. 8b) Bangsa Israel ii telah melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib ketika mereka ada dipadang gurun. Tuhan memang mengizinkan mereka kehausan, kelaparan namun tidak pernah tangan Tuhan terlambat untuk menolong mereka. oleh karn aitu satu hal yang Allah inginkan dalam hidup mereka yaitu tetap setia kepadanya. Tuhan tidak meresponi berkat Allah yan telah mereka terima dengan setia kepada Allah dengan sikap yang baik. adil dan rendah hati.
Tuhan mengiginkan kita untuk mencintai kesetian. ingat kesetian merupakan bukti cinta kita kepada Allah. ada upah menanti bagi orang yang setia. "Hendaklah engkau setia samapi mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (wahyu 2:10b)"

Kamis, 03 Oktober 2013

Shamila

Shamila adalah pemimpin kaum revolisioner yang berusaha menggulingkan Kaisar Rusia yang diktaktor.
 
Suatu malam pengawal Shamila melaporkan bahwa ada yang mencuri makanan. Shamila naik pitam karena persedian makanan mereka sangat terbatas. maka diumumkan siapapun yang tertangkap basah mencuri makanan akan dicambuk 50 kali di muka umum. tidak lama setelah itu, pengawalnya melaporkan bahwa pencuri itu sudah tertangkap namun ternyata pencuri itu tidak lain adalah ibu shamila sendiri.....
 
Shamila menghadapi delema! kalau dia mencanbuki ibunya untuk menekankan keadilannya, ibunya akan mati, namun kalau dia tidak menghukumnya karena kasihnya kepada ibunya, orang tidak akan mengakuinya lagi sebagai pemimpin yang adil.
Shamila harus tetap menjalankan hukuman demi keadilan. tapi karena dia melepaskan pakaiannya dan memerintahkan pengawalnya untuk mencambuk dia sebagi ganti ibunya!


Ada seorang pria bernama Blondin yang bias berjalan di atas kabel melintaang air terjun Niagara. Setelah beberapa lama, atraksi ini sudah tidak menarik lagi sehingga Blondin menghidupkan kembali dengan berjalan melintasi kabel sambil mendorong sebuah kereta dorong bermuatan pasir. ketika dia berhasil sampai di seberang, para penonton bersorak-sorai.

Manajernya berseru kepada penonton, "Apakah saudara sekelian percaya dia dapat melintasi kabel ini kembali ke seberang dengan mendorong seorang di dalam kereta?" Penonton serentak berkata "ya, percaya!"
 
"Baiklah", kata sang manajer " siapa yang bersedia naik ke dalam kereta itu?" Tidak ada yang bersedia.
 
Ahkirnya seorang anak kecil naik ke atas kereta dorong dan memberiarkan dirinya didorong oleh Blondin menyeberangi Niagara dan selamat.
 
Semua orang percaya Blondin bias mendorong seseorang dengan selamat sampai ke seberang, tetapi hanya satu orang yang bersedia mempecayai diri sepenuhnya kepadanya.

Jika iman yang menyelamatkan bukan hanya sekedar mempercayai Kristus di mulut atau menyetujuinya secara akal saja, tetapi menyerahkan diri kita sepenuhnya dipegang olehya menuju hidup kekal atau surga........