lena

saya magdalena merichel betty,lahir di palembang 08-12-91, anak pertama(kembar)dari 3 bersaudara kuliah di jakarta di uki,falkultas FKIp, prodi PAK

Senin, 28 Oktober 2013

Kasih


 Sekalipun aku dapat berkata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekali pun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan,
dan sekali pun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekali pun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,
bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,
tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar;
Kasih itu murah hati;
Ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu,
percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu,
sabar menangungu sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir
bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna akan lenyap.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berfikir seperti kanak-kanak.
Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran samar-samar,
tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna,
tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna,
seperti aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.
dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.

Kasih ( 1 Korintus 13:1-13)
 
Cerita
 
      Awal Kehancuran dalam hidupku dimulai ketika aku memperbolehkan kejahatan masuk ke dalam diriku. Lalu kemudian dengan cepat dia merongrong jiwaku, mengikatnya dan selanjutnya aku berada di bawah jajahannya.

aku menjadi budak kejahatan, dalam langkah awal ia solah-olah memberikan kebebasan dan kebahagiaan dunia kepadaku dan aku menjadi yakin akan pemberiannya itu, dengan keyakinku itu aku dengan sukarela memberikan kebebasan dan kebahagiaanku kepadanya sehingga aku menjadi terikat dan terbelunggu olleh dosa yang dibuatnya. dan secara sukarela aku terus mengikuti perintahnya.

Di dalam periode ini aku menjadi semakin mundur dan mundur. di dalam kemunduran itu secara sadar aku meyakini di dalam diriku ada suatu permasalahan besar yang tengah terjadi di dalam diriku. sehingga kemudian dengan gagahnya aku berseru-seru dan berkata-kata, aku bisa melewatinya. aku bisa menyelesaikannya. aku kuat. aku pasti bisa mengatasinya.

Aku terlalu congkak dan sombong dengan keyakinanku itu, aku merasa seperti bisa keluar dari masalah ini dengaan kekuatan yang aku miliki. kecongkakan dan kesombongan ini semakin memperdalam keterikatanku dengan dosa. dosa semakin mengikat manusia yang sombong dengan keyakinannya. keyakinan yang bodoh dan tidak berfaedah sama sekali dalam menyelesaikan permasalahn. karena akar permasalahannya adalah aku tidak menyertakan Tuhan dalam setiap persoalan hidupku. Aku seolah-olah yakin Tuhan pasti hadir dan dengan baik hati akan menolongku tanpa aku meminta pertolongan kepadaNya.

Sungguh.... dalam kondisi ini Aku adalah manusia yang belum beranjak dalam kedewasaan iman. Pola pikir kolot masih terus menggelayut dalam pikiranku. merasa bisa bukanlah jalannya. aku semakin terperangkap dalam lingkaran yang sama. yang kurasakan aku semakin lelah dan lemah dalam ketidakberdayaan. dan dalam kondisi ini hal yang umum dirasakan adalah aku merasakan Tuhan tidak hadir dalam hidupku.

Hamba seperti apa aku ini ketika secara sadar aku menguji Tuhan ku dan disaat lain aku menyalahkan Tuhan Sang Pemberi Kehidupan.

Padahal sudah sangat jelas dikatakan bahwa ketika kita minta kepadaNya maka DIA sang sumber kekuatan akan datang dan dengan suka rela serta penuh kasih akan membantu kita dan mengangkat kita dari persoalan yang membelenggu.

Menghadirkan Tuhan dalam hidup adalah hal yang paling mulai dan berharga. Dan hal yang perlu di ingat adalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita yang berseru-seru kepadNya.

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar